Ubisoft Pecat Petinggi Usai Terbukti Lakukan Pelecehan

Ubisoft Pecat Petinggi Usai Terbukti Lakukan Pelecehan

Dalat Wine  Pengadilan Prancis resmi menjatuhkan hukuman pidana bersyarat kepada tiga mantan eksekutif Ubisoft atas kasus pelecehan di tempat kerja. Para terdakwa terbukti melakukan pelecehan seksual, pelecehan psikologis, hingga upaya penyerangan terhadap sejumlah karyawan. Ketiga pria yang terlibat adalah Thomas Francois, Serge Hascoet, dan Guillaume Patrux, yang pernah memegang posisi penting di perusahaan pengembang game asal Prancis itu.

“Baca Juga: Performa RTX 5050 Terungkap, Jadi Pilihan GPU Terjangkau”

Rincian Vonis: Hukuman dan Denda untuk Tiga Mantan Eksekutif

Thomas Francois, mantan Vice President Editorial Ubisoft, menerima hukuman tiga tahun penjara bersyarat. Ia juga dikenai denda sebesar 30.000 euro atau sekitar 572 juta rupiah. Francois dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual, pelecehan psikologis, dan percobaan penyerangan seksual.

Serge Hascoet, mantan Chief Creative Officer, dijatuhi hukuman 18 bulan penjara bersyarat dan denda 45.000 euro atau sekitar 763 juta rupiah. Hascoet terbukti melakukan pelecehan psikologis dan ikut serta dalam aksi pelecehan seksual terhadap staf internal.

Sementara itu, Guillaume Patrux, yang pernah menjabat sebagai sutradara game, divonis 12 bulan penjara bersyarat dan denda 10.000 euro atau sekitar 190 juta rupiah. Ia dinyatakan bersalah atas tindakan pelecehan psikologis selama menjabat di perusahaan.

Tindakan Pelecehan yang Terbukti Terjadi di Lingkungan Kerja Ubisoft

Berdasarkan laporan The Guardian, Thomas Francois terbukti mengikat seorang karyawan perempuan ke kursi kantor dan mendorongnya ke dalam lift. Ia juga memerintahkan staf wanita melakukan handstand karena mengenakan rok pendek, dan pernah mencoba mencium rekan kerja saat pesta natal.

Serge Hascoet memerintahkan asistennya melakukan tugas pribadi, yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Ia juga membuang ingus ke tisu dan menyerahkannya kepada seorang karyawan wanita. Ia menyebut tisu itu bernilai “emas” di Ubisoft.

Guillaume Patrux terbukti menggambar lambang swastika di buku catatan staf wanita saat rapat. Ia melempar perabotan kantor, serta menyalakan pemantik api di dekat wajah karyawan pria hingga membakar sebagian janggutnya.

Budaya Kerja Ubisoft Dipertanyakan: “Seperti Perkumpulan Lelaki Kebal Hukum”

Salah satu terdakwa mencoba membela diri dengan menyebut perilaku mereka sebagai bagian dari “budaya bercanda.” Namun, kesaksian para korban menyatakan sebaliknya. Seorang staf Ubisoft menggambarkan lingkungan kerja tersebut sebagai “perkumpulan lelaki yang merasa berada di atas hukum.”

Kasus ini membuka kembali sorotan terhadap budaya perusahaan Ubisoft, yang sebelumnya juga telah dikecam karena pembiaran terhadap perilaku toksik dan tidak profesional di lingkungan kerjanya. Penyelidikan internal yang dilakukan sejak 2020 lalu memicu gelombang pengunduran diri dan pemecatan sejumlah eksekutif.

“Baca Juga: Triton Team Mitsubishi Ralliart Siap di AXCR 2025″

Ubisoft dan Industri Game Perlu Reformasi Budaya Kerja

Kasus ini memperkuat urgensi reformasi budaya kerja di industri game, khususnya di perusahaan besar seperti Ubisoft. Kejadian ini juga menjadi peringatan keras bagi manajemen agar serius menanggapi laporan pelecehan di tempat kerja.

Ubisoft sendiri mengaku telah memperbaiki sistem pelaporan dan memperkuat kebijakan etika sejak investigasi awal pada 2020. Namun, vonis pengadilan membuktikan bahwa masalah sistemik pernah tumbuh subur di perusahaan tersebut. Kasus ini tidak hanya berdampak pada reputasi Ubisoft, tetapi juga menggugah diskusi global tentang keselamatan dan kesejahteraan karyawan di industri kreatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *