Dalat Wine – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa militer negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara video dengan NBC News pada Kamis, 6 Juni 2026, Araghchi ditanya mengenai kemungkinan operasi militer darat oleh Washington. Ia menegaskan bahwa Iran tidak merasa gentar menghadapi skenario tersebut. “Tidak, kami menunggu mereka,” kata Araghchi. Ia menambahkan bahwa Teheran percaya pasukan Iran mampu menghadapi militer Amerika Serikat jika konflik meningkat menjadi invasi darat. Menurutnya, langkah tersebut justru akan menjadi bencana besar bagi Washington. Pernyataan ini menegaskan sikap keras pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan militer dari negara Barat.
“Baca Juga: Infinix Note 60 Ultra Terdeteksi, Bawa Dimensity 8400″
Konflik Memanas Setelah Serangan AS dan Israel ke Iran
Pernyataan Araghchi muncul setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menjadi titik awal eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat penting negara itu. Di antara korban yang dilaporkan tewas adalah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta beberapa pejabat keamanan senior. Kematian tokoh penting tersebut memicu kemarahan luas di Iran dan meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintah untuk melakukan balasan. Pemerintah Teheran kemudian melancarkan berbagai serangan balasan terhadap target yang dianggap berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Konflik tersebut dengan cepat berkembang menjadi salah satu krisis geopolitik paling serius di kawasan dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan militer ini juga menimbulkan kekhawatiran internasional mengenai potensi perang regional yang lebih luas.
Iran Tegaskan Tidak Meminta Gencatan Senjata
Di tengah meningkatnya intensitas konflik, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak meminta gencatan senjata. Ia menyatakan bahwa pemerintah Iran tidak melihat alasan untuk menghentikan perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan ilegal terhadap negara tersebut. Araghchi menyinggung konflik singkat antara Iran dan Israel yang terjadi tahun lalu. Dalam perang selama 12 hari tersebut, menurutnya, Iran juga tidak meminta gencatan senjata. Ia bahkan menyebut bahwa Israel yang akhirnya meminta penghentian pertempuran pada saat itu. Konflik tersebut melibatkan serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran oleh Israel dan Amerika Serikat. Araghchi menegaskan bahwa tujuan Iran dalam konfrontasi saat ini hanyalah mempertahankan diri. Ia menilai perang yang sedang berlangsung tidak akan menghasilkan pemenang bagi pihak mana pun. “Tidak ada pemenang dalam perang ini,” katanya. Menurutnya, keberhasilan Iran adalah kemampuannya untuk tetap melawan tekanan militer dari luar.
Iran Tuduh Serangan ke Sekolah di Minab
Selain membahas konflik militer, Araghchi juga menyinggung serangan terhadap sebuah sekolah dasar di kota Minab di Iran selatan. Ia menuduh bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Amerika Serikat atau Israel. Menurut Araghchi, serangan tersebut menewaskan 171 siswi sekolah dasar. Ia mengatakan bahwa pejabat militer Iran meyakini serangan itu hanya mungkin dilakukan oleh salah satu dari dua negara tersebut. Namun tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Washington sedang menyelidiki insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak menargetkan warga sipil dalam operasi militernya. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt. Ia menolak tuduhan bahwa Amerika Serikat melakukan serangan terhadap target sipil di Iran. Insiden tersebut menjadi salah satu isu sensitif yang memperburuk ketegangan antara kedua negara.
“Baca Juga: Indonesia Hadirkan Indonesia Game Rating System”
Iran Kritik Diplomasi dengan Amerika Serikat
Dalam wawancara tersebut, Araghchi juga menyinggung hubungan diplomatik Iran dengan Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa saat ini Iran tidak memiliki kontak dengan perantara Amerika Serikat. Ia menyebut nama utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner sebagai contoh mediator yang sebelumnya terlibat dalam upaya diplomasi. Menurut Araghchi, Iran memiliki sedikit alasan untuk melanjutkan negosiasi dengan Washington. Ia menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak bernegosiasi dengan itikad baik. Araghchi juga menuduh Washington sering menggunakan diplomasi sebagai alat tekanan politik sebelum melancarkan tindakan militer. Sikap tersebut membuat pemerintah Iran semakin skeptis terhadap upaya dialog dengan Amerika Serikat. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa konflik yang sedang berlangsung kemungkinan tidak akan menghasilkan kemenangan yang jelas bagi pihak mana pun. Ia kembali menegaskan bahwa perang tersebut hanya memperpanjang penderitaan tanpa memberikan solusi nyata bagi semua pihak.




Leave a Reply